Jogja adl satu2nya propinsi berbentuk kerajaan (monarchi) scr cultural meski scr administrasi pemerintahan sbgmana propinsi2 laen Indonesia. Itulah yang membuat Jogja sungguh istimewa, satu2nya kerajaan yg utuh, akar budaya bangsa yang masih dicintai, dijaga dan dijunjung oleh warga ngayogyakarto. Smua sudah tahu demi Republik ini Sultan HB IX memperjuangkan kemerdekaan RI. Dan mendeklair jogja sbg bagian RI demi menjunjung NKRI, drpd membangun kerajaan sendiri.
Hal yang aneh ditunjukkan ol Pemerintah Pusat dan DPR yg terus mengulur..mengambangkan..dan berusaha mreteli keistimewaan Jogja, dengan monarchi-nya, alasannya takut disebut bukan Negara Demokrasi.
Sebab menurut Pusat; syarat demokrasi ada lembaga trias politika, pembatasan kekuasaan dan pemilu. Lalu pertanyaannya ;”mengapa kudu nurut demokrasi ala buku kuliahan ??.
Kalo toh Sultan sbg Raja dan sekaligus gubernur apa salahnya ??. kan lumayan hemat biaya Pemilu puluhan Milyar, biarlah para Bupati dan Walikota yg ber Pilkada. Ssst..untuk ncalon/dicalonkan Gubernur tiap kandidat harus merogoh kocek milyaran.
sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2010/12/01/jogja-tetap-istimewa/# Dan saat kutanya kawanku yg aktif di politik;”mosok modal CaGub sampe 2 M apa balik modal ??, sedang gaji Gubernur aja cumin 8 jt ??. Temenku tegas njawab;” kalo cuman 2 M itu minim dan termasuk paling murah untuk Cagub, biasane sampe 16 M. Kamu jangan itung untung dari Politik kaya ngitung untunge gorengan…pasti balik..pasti buat rebutan”. Jawabannya membuatku merasa bodoh aja, asssemm.
Kami bukan anti kemajuan ilmu politik ato apalah. Tapi menurut ‘coro bodon’ ku, lebih baik menggali dan memulyakan akar budaya yang telah dilalui ratusan tahun oleh masyarakat sendiri, drpd mencoba ramuan yg blm tentu khasiatnya. Kata org bijak;”yang terbaik bagi kita adalah kebiasan dan pengalaman yg membangun jiwa-raga ini, begitu”. Bukan..tipluk..disodorkan formula ol intelektual2 yang lusuh berkutat melahap ilmu2 yunani, lupa jatidiri. Yunani tu siapa ya, setahuku Yu Nanik si bakul sate madura yg keliling sore hari di kampong kami. Huahahaha.
Lebih menjijikkan jika belajar Etika di Yunani. Pdhal etika mrp saripati sikap-spirit-pikir suatu masyarakat yg hidup, berlangsung dan berkembang berdasar sejarah suatu masyarakat. Meskipun kebaikan adl universal.
Pada menolak monarchi Jogja, salah satunya karena smua parpol tidak ada yg mampu mengusai jogja. Walo Sultan HB X emang Golkar tapi juga NASDEM, mo dipecat koq ya sayaang. Biarpun Golkar, Sultan tak pernah membedakan warga yg beda bendera. Sebagai contoh wkt awal erupsi Merapi, smua pamer bendera Parpol, tapi Sultan minta diturunkan smua bendera tanpa kecuali, ag tdk mengambil untung dr bencana, tdk etis.
Andai boleh usul, biarlah yg pernah punya kerajaan agar menggunakan system pemerintahan ala kerajaan, dg demikian budaya bukan hanya sekedar museum mati tapi mrp laku peradaban dan pemerintahan yg hidup. Dan hal itu menjaga khasanah bangsa. Merupakan daya tarik peneliti maupun wisatawan dr negara2 maju. Sedang kota2 modern spt Jakarta, Sby Smg dlsb tetap aja gunain system demokrasi dan Pilkada.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar